Tradisi Perang yang Adil
19 Februari 2008 at 3:15 pm 1 komentar
Objek pembahasan sekarang ini bukanlah sebuah doktrin, sebagaimana yang sering disinggung-singgung khususnya di kalangan keagamaan, melainkan sebuah tradisi yang mencakup banyak doktrin individu dari beraneka ragam sumber yang ada di dalam kebudayaan dan beraneka ragam kurun waktu perkembangan sejarah, dan mencerminkan berbagai variasi muatan. Jika kita ingin membicarakan masalah “perang adil”, maka secara serta merta kita akan dihadapkan dengan seribu satu permasalahan. Kita perlu bertanya “doktrin siapa?” dan ujung-ujungnya mendukung salah satu doktrin yang kita gali dari lubang kuburnya. Pendekatan ini seringkali melahirkan positivisme sejarah mengenai moral: yang pernah dikatakan oleh si anu itulah yang seharusnya kita pikir dan lakukan, sehingga itulah yang seharusnya saya pikir dan lakukan. Seorang penganut Katolik yang terlalu taklid kepada teori perang adil Thomas Aquinas (yang secara komparatif minimal) akan mengeluarkan salah satu contoh dari cara berpikir keliru mengenai tradisi perang adil sebagai doktrin tunggal; contoh lainnya adalah penganut Protestan yang terlalu memuja-muja Agustinus, Luther, atau bahkan Injil sendiri dengan cara ini dan para akhli hukum internasional yang berusaha mengangkat hukum perang modern sebagai salah satu unit dari konteks sejarahnya. Bertentangan dengan pendekatan-pendekatan tersebut, memikirkan mengenai tradisi perang adil mengharuskan kita agar masuk ke dalam lingkaran perkembangan yang terus menerus atas tradisi ini, dengan menganggap masing-masing kontributor sejarahnya sebagai sesama partisipan yang patut didengar dan harus diperhitungjan dengan serius, tetapi bukan sebagai rasul yang harus dipatuhi secara buta,. Tradisi perang adil sebagai pedoman bagi analsisi moral memerlukan adanya pengadilan moral aktif di dalam bingkai konteks sejarah yang bukan hanya mencakup dunia saat ini, melainkan juga masa lalu yang masih bisa diingat dengan caukup kuat. Dia tidak bisa menjadi landasan yang tepat bagi positivisme sejarah di dalam etika.Salah konsepsi yang marak lainnya adalah menganggap gagasan perang adil sebagai ciri khas dari pemikiran-pemikiran moral Kristen – dan lebih khusus lagi Katolik. Salah satu pendapatnya adalah bahwa tradisi perang adil terutama sekali merupakan produk kearifan yang khas teologis dan perbendaharaan prinsip-prinsip etika sempit Kristen yang memiliki sesuatu andil dalam hubungan antar negara. Ada beberapa hal yang keliru mengenai cara pandang atas hakekat tradisi perang adil semacam ini. Memang harus diakui bahwa kalangan teolog Kristen pernah memiliki dampak penting terhadap perkembangan tradisi moral sejarah ini; sebab kalau tidak maka dia tidak akan bisa mewakili sebuah konsensus moral kebudayaan luas mengenai justifikasi dan batasan-batasan mengenai perang, sebagaimana yang saya katakan di atas. Tapi pertama-tama sekali, kontribusi-kontribusi khas Kristen ini bukan hanya datang dan bahkan bukan merupakan kontribusi prinsip dari kalangan teolog; hukum kanon dan tradisi pengakuan, dua sumber yang lebih mirip dengan kekotoran dan ambiguitas kehidupan biasa dibandingkan dengan teologi sebagai salah satu disiplin pemikiran, telah memberi andil yang kadarnya lebih mendasar dalam mengembangan tradisi sejarah atas perang adil.
Entry filed under: Akademis. Tags: Adil, Keadilan dalam perang, Perang, Tradisi.
1 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed


1.
agus | 17 Maret 2008 pukul 11:07 pm
tulisan kamu bagus. bisa minta tolong? apakah kamu mempunyai buku tentang perang? atau ajaran moral kristen tentang perang? please, kalau ada diberitahu ok? saya menunggu, Tuhan memberkati.